KIsah seorang Raja dan seorang Dayang PART II
Kamis, 1 April
2016
“Hebat kamu,
kamu telah menghancurkan dongengku demi menghidupkan dongengmu”
Ketika cobaan
datang, semua orang pasti ingin lari dari semua cobaan yang sedang menimpanya,
bahkan ada juga yang menetap berusaha untuk menghadapi cobaan tersebut. Masalah
datang silih berganti seperti layaknya siang dan malam yang terus berganti
setiap harinya.
Aku, kini aku
sedang berada dalam masalah yang mungkin tidak biasa bagiku menghadapi
permasalahan seperti ini. Awalnya ini hanya masalah kecil saja, akan tetapi
masalah ini menjadi besar akibat sang raja yang memang terlalu memperpanjang
sebuah permasalahan ini. Yang pada akhirnya emosi pun meluap diantara keduanya.
Akupun terbawa oleh situasi yang sangat mendukung pada saat itu.
Sebenarnya aku
tidak ingin semua ini terjadi, akan tetapi nasi telah menjadi bubur. Hanya
kesedihan yang menimpaku saat ini. Kamu yang saat itu aku kenal bijak, dewasa,
pengertian kini telah berganti menjadi kamu yang bagaikan seperti tinta hitam
di dalam hidupku. Dan akhirnya akupun tahu siapa dirimu sebenarnya. Aku hanya
bisa menilai dirimu saat ini bagaikan lembaran-lembaran kertas putih yang telah
kotor oleh goresan-goresan tinta. Aku sangat kecewa bahkan jauh dari apa yang
aku rasakan sebelumnya. Sakit sekali hati ini melihat semua sikapmu yang telah
kau lakukan kepadaku. “oh ternyata kamu memang begitu yah.” Batinku.
Dulu kamu yang
sering mengajarkanku tentang kesederhanaan, tentang pelajaran hidup, bahkan
dunia politik tentang isu kontemporer pun kamu sering sampaikan kepadaku, juga
nasihat-nasihat yang tak pernah hilang dari telingaku. Kini semuanya hanya bisa
aku telan saja semua itu. Banyak sekali kenangan yang indah yang membuatku
susah untuk melupakannya. Tapi harus aku lupakan.
Untukmu Mr.
*MDGR* Kamu pernah memarahiku karena boros membeli hal-hal yang sebenarnya
tidak perlu. Aku pun sering mengingatkan agar kita sama-sama tak meremehkan
pekerjaan — bagaimanapun, itu adalah tiket menuju kemapanan. Tak pernah
sebelumnya aku sehati-hati ini dalam pengeluaran. Mungkin karena Usiaku bukan
lagi seperti anak kecil yang berusia 3 atau 4 tahun yang jika minta permen,
mainan akan selalu diberikan oleh orang tuanya. Kini usiaku adalah 20 tahun,
bukan usia anak kecil lagi. Ada banyak hal yang harus aku perhatikan dan
perbaharui di usiaku ini, mulai dari kehidupan sehari-hariku sampai menata
untuk masa depan yang lebih baik.
Memang di
usiaku yang sekarang ini banyak sekali perubahan yang aku sendiri merasakannya,
mulai dari hal yang terkecil hingga sampai hal yang terbesar sekalipun itu. Ada
banyak keinginan yang saat ini menggoda keinginanku, namun aku harus bisa untuk
menahannya, “TUNDA KESENANGAN”, mungkin kalimat itu yang sering
terngiang ditelingaku saat ini. Aku tak boleh meminta terus menerus kepada
orang tuaku, aku harus mulai belajar mandiri, dan aku sedang menghilangkan kata
“MANJA” dari hidupku. Aku sadar jika orang tuaku masih sering memanjakanku aku
akan terlahir sebagai anak yang rewel.
Make up, kini aku
mulai melancong kepada perawatan wajah yang memang dari dulu aku sangat anti
dengan barang-barang itu, tapi entah mengapa barang-barang itu kini ada
dihadapanku setiap harinya, mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi aku
lebih sering memperhatikan wajahku dan merawatnya hehe yah mungkin ini
kelihatannya lucu juga sih, aku yang memang pada awalnya sangat anti dengan
barang-barang itu, kini mereka menjadi sahabatku disetiap waktu. Hihi.
Beberapa
masalah aku sudah bisa menyelesaikan sendiri (alhamdulillah), dulu kalau ada
masalah aku pasti akan segera menghubungi orang tuaku dan meminta dijemput
pulang, kelihatannya lucu memang, namun inilah aku dengan sifat manjaku yang
aku rawat sejak kecil hingga usiaku 19 tahun hehe...
Kini,
perubahanku sudah terlihat sangat jelas bahkan sudah terasa dengan diriku
sendiri loh hehe, kalau di fikir-fikir yah memang yang membuatku bisa sampai
seperti ini ada perantaranya juga sih hehe tapi ini akan tetap menjadi
rahasiaku, hanya aku dan Allah yang tahu siapa dia, bagaimana dia, dimana dia.
Yang jelas aku sangat berterimakasih kepada seseorang yang mampu merubahku
hingga aku menjadi seperti sekarang ini, menjadi seorang wanita yang kuat,
tegar, tidak lemah dalam menghadapi semua kehidupan ini. Dan diseperempat malam
sholatku aku selalu berdo’a kepada Allah agar perantaraku tetap bisa menjadi
perantaraku yang selalu berusaha untuk membawaku, membimbingku, menasehatiku
juga mengingatkanku jika aku salah ataupun khilaf sekalipun itu aku lakukan
sampai akhirnya suatu saat nanti ada yang menggantikan posisinya yaitu calon
imamku yang entah masih berada dimana, di lauhil mahfudz sepertinya.
Keberadaannya
membuatku nyaman, tenang, tentram dan juga damai. Aku merasa terhibur
dengannya. Candanya, tawanya membuatku bisa tertawa lepas selepas-lepasnya dan
aku merasa semua beban yang aku pikul seperti hilang dan pergi, itulah yang aku
rasa jika dia datang dengan penuh canda dan tawa dihadapanku. Tak ada yang tahu
memang tentang semua ini, dan aku berusaha untuk menyembunyikan semua ini
dengan rapi agar tak ada orang lain yang tahu, termasuk teman-teman
disekitarku. Sengaja aku merahasiakan semua ini karena aku memang tak suka jika
ada orang lain yang tahu karena aku tahu bagaimana sikapnya jika dia sudah
marah. Bisa diibaratkan seperti gunung yang akan mengeluarkan larva dari
perutnya. aku akhirnya menemukan alasan untuk serius tentang masa depan. Rasa
sayang ini mungkin ada, tapi rasa sayang ini aku utarakan hanya sebagai seorang
kakak saja tidak lebih, yah “bella nyaah ka aa da aa teh udh jadi aa bella
yg selalu ngehibur, ngelawak, ngasih saran, motivasi, yg udh ngasih perubahan
yg sangat besar di hidup bella jadi nyaah bella ka aa mah hanya sebagai nyaah
seorang adik ka kakakna” udah hanya itu aja gak lebih, tapi yah mungkin
tanggapan aa pasti bakal beda..entahlah aku sudah malas mendengar semua ini.
Terima kasih A’Dliya
untuk tidak meremehkan kemampuanku untuk berjuang di sisimu.
Terima kasih
A’Dliya untuk tidak mencoba membuai dengan janji kamu akan memperjuangkan
semuanya untukku.
Terima kasih,
kamu justru menghargai usahaku.
Mugkin,
Akan ada
saatnya nanti, kita tak perlu pulang ke rumah masing-masing lagi. Aku, Kamu
akan berada di tempat masing-masing dan dengan keluarga masing-masing juga.
Akan ada saatnya, kita mampu membiayai hidup makhluk kecil yang memanggil kita
dengan sebutan menghangatkan hati.
Tentu saja ini
semua masih berupa masa depan. Tentu saja, ini tak bisa kita dapatkan di masa
sekarang. Tapi ada cara supaya kebaikan ini lebih lekas datang: tak
henti-hentinya memperjuangkan masa depan.
Jangan
lepaskan. Kita akan terus saling menyemangati, bukan?
Kini, semua itu
hanyalah tinggal sebuah kenangan saja.............
Terimakasih
A’Dliya semoga Allah selalu melindungimu dimanapun kamu berada dan do’akanlah
aku disini agar aku kuat menghadapi semua cobaan hidup ini J
Komentar
Posting Komentar