SEBUAH NOKTAH KECIL (Aku berteriak kencang di balik sekat, agar tak seorang pun tahu betapa rapuhnya aku.)


Aku sangat paham tidak ada mahligai yang bebas dari badai. Tiap perjalanan akan menemui aral. Begitupun dengan bahtera rumah tangga Papa dan Mama. Keluarga kita ibarat sampan di tengah samudera. Pada suatu titik, riak gelombang pun membaliknya. Awalnya hanya pertengkaran biasa, lalu berubah menjadi perpisahan rumah tangga. Saat itu aku berjalan menghitung ribuan detik setelah perpisahan kalian. Air mataku tak henti-hentinya mengalir, mengucur menulusuri pipiku. Aku terus berjalan melewati pekatnya hari yang tak pernah aku duga akan kedatangannya. Semuanya hancur berantakan. Aku sangat ingat, waktu itu adalah hari pertama saat title baruku berubah dari siswa menjadi mahasiswa. Hari saat dimana seharusnya menjadi hari baru yang membahagiakan bagiku, berubah seketika menjadi kelam. Pengalaman baru dengan title baru, menjadi produk broken home. Pertengkaran kalian memang menjadi hidangan biasa dalam keseharian kami. Awalnya, aku tak begitu peduli, karena akhirnya semua akan terselesaikan dan akan kembali seperti sedia kala. Namun hari itu berbeda Pa, Ma. Aku yang biasanya hanya diam di dalam kamar, berteman dengan gaming komputerku, keluar menyaksikan dan mendengarkan pertengkaran hebat kalian. Satu kalimat yang tak pernah ingin aku dengar keluar dari mulut Papa, talak. Ya talak yang memberi pukulan talak untukku. Aku berlari masuk dan menjerit di bawah bantal tidur Pa, Ma. Walau akhirnya Mama mengusap habis semua air mataku, Papa meminta maaf untuk semua itu, tapi semua tak akan mengubah kenyataan bukan? Kalian tetap tak bersama lagi. 

Aku seperti berdiri pada sebuah persimpangan, tak tahu kemana kakiku akan mengarah dan meneruskan langkah. Papa dan Mama tak mengantarku sampai tujuan. Kalian berhenti dan berpisah saat aku tak tahu lagi kemana harus berjalan. Di depanku ada tanjakan tajam yang menunggu untuk di daki, dan di belakangku ada jurang curam yang menungguku untuk terjun bebas. Tak ada lagi genggaman kuat yang akan membantuku bangkit saat terjatuh, dan tak ada lagi jemari lembut yang akan menyeka tangis saat aku terluka. Rasanya percuma saja jika aku mengatakan rindu akan semua itu. Toh hanya akan menambah dalam sayatan luka.

Hari ini, Papa dan Mama telah menjalani hidup baru dengan pasangan baru. Haruskah aku memanggil mereka dengan sebutan yang sama? Haruskah aku akrab dengan orang-orang baru yang kalian hadirkan untuk kami? Bahkan aku saja lupa bagaimana cara mengakrabkan diri dengan Papa dan Mama. Terlalu sakit untuk mengenang semua tumpukan duka yang membuncah dalam dada. Terlebih jika mendengar tawa baru yang terlahir dari perpisahan kalian. Karena aku tak mampu untuk merangkai kebahagiaanku selepas perpisahan itu Pa, Ma. Sulit untukku mampu menerima keadaan yang kalian hadirkan. Aku harus menjalani ribuan hari tanpa kehangatan dari Papa dan Mama.

Aku sangat percaya bahwa Tuhan tidak pernah membuat skenario yang keliru untuk hamba-Nya. Tuhan akan memberikan jalan yang hebat untuk orang-orang yang hebat. Dia tak pernah salah dalam menentukan arah hidup hamba-Nya. Meski terkadang sebagian dari hamba-Nya tidak sadar akan maksud dan tujuan Tuhan dalam menurunkan setiap masalah dalam hidupnya. Beban yang berat hanya untuk mereka yang dirasa mampu dan kuat untuk memikulnya. Aku mencoba berpikir jernih di tengah kesemerawutan perjalanan yang aku lalui. Pada setiap ujian yang Dia berikan untukku, selalu ada aliran kekuatan yang Dia anugerahkan, hingga aku selalu mampu untuk melaluinya. Terimakasih untuk skenario hebat-Mu untukku, Tuhan.

Papa dan Mama, semoga kalian tetap bahagia. Aku di sini baik-baik saja. Meski setiap pagi aku takkan melihat pemandangan yang sama seperti dulu, aku tetap percaya bahwa hati kalian selalu untuk kami, anak-anakmu. Papa dan Mama kini tinggal di rumah yang berlainan, dengan keluarga baru yang jauh membuat kalian bahagia. Aku percaya, cinta dan kasih Papa dan Mama tak akan pernah menjauhi kami. Walaupun sebenarnya aku benci menerima semua ini, ketahuilah, aku selalu berharap kebahagiaan selalu menyertai hari-hari kalian. Aku, anakmu dari sudut kenangan, menjadi saksi kedukaan kalian menjalani hari di masa lalu, dan kali ini juga siap menjadi saksi kebahagiaan hidup baru kalian, meski kita tak bersama. Papa, Mama, kami menyayangi kalian. 

Bersambung~~~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku menulis, Aku berbagi

BEHIND OF SHADOW