Aku menulis, Aku berbagi
Keheningan
malam memecah kesunyian yang ada disekitarku. Cuaca pada malam ini sangatlah
mewakilkan perasaanku yang sungguh tidak menentu. Bahagia, resah, gelisah semua
menjadi satu di dalam hatiku. Ketika aku berada di rumahku syurgaku hati ini
begitu sangatlah bahagia gundah gulana karena aku bisa merasakan kasih sayang
mimih yang begitu besar kepadaku. Apa yang aku mau selalu terpenuhi dan tak
lupa mimih selalu memberikan perhatiannya yang begitu besar untukku. Akan tetapi
ketika aku harus kembali ke suatu tempat dimana aku harus mengamalkan ilmu dan menimba
ilmu perasaanku selalu saja rapuh, sedih tak menentu. Rasa sakit selalu
menghantui diri ini, aku harus memendam semua kisah ini sendirian karena aku
belum menemukan seseorang yang tepat untuk aku jadikan sebagai seorang
pendengar yang baik. Hari terus berlalu dimana aku harus selalu dihadapkan oleh
gejolak bathin yang kadang tak menentu arahnya. Pada saat ini mereka
orang-orang yang aku kenal selama kurang lebih 1 tahun ini kini aku tahu siapa
mereka sebenarnya tanpa harus aku tuangkan pada tulisan ini. Terkadang aku
bingung dengan orang-orang yang selalu bermain topeng dibalik layar hitam dan
putih ini. Aku memang tidak terlahir dari tempat ini, ya memang aku telahir
dari Kampung Nan Damai Darussalam, sebuah kampung layaknya seperti syurga
bagiku. Aku mengenyam pendidikan selama kurang lebih 4 tahun disana. Pelajaran kehidupan
yang aku dapatkan dari sana begitu sangatlah banyak, aku dilatih bagaimana aku
harus menjadi wanita yang Sittil-Kulli dalam artian wanita serba bisa. Aku juga
dilatih, dididik, digembleng untuk menjadi singa betina yang mengaung bukan
mengembik ketika aku dihadapkan oleh masalah seperti ini. Ada saja hal yang
membuatku sakit dan selalu saja seperti ini, ketika aku tengah berkelana
menghirup udara segar setibanya aku ke tempat tersebut, keheningan yang aku
dapatkan semuanya terdiam membisu bagaikan tidak ada sesuatu yang terucap dari
mulut mereka. Asik dengan cara membisukan aku tanpa membongkah sepatah katapun.
“Memangnya kenapa kalau aku sejenak
menghela nafas di luar sana?” , batinku. Aku selalu menggumam seperti itu
di dalam hati. Husnudzonku selalu berubah menjadi suudzon yang tidak berujung
kemana tujuannya. Tapi itulah aku itulah perasaanku saat ini aku telah banyak
dihadapkan oleh permasalahan-permasalahan seperti ini yang aku sudah terbiasa
menghadapinya. Aku butuh teman, aku butuh seorang sahabat yang mampu menjadi
pendengar setiaku di kala aku senang, sedih dan aku belum menemukannya di
tempat ini. Mereka terlalu munafik untuk
aku dekati sehingga aku tidak ingin mendekatinya. Dan hal yang membuatku
semakin tertekan adalah Mr “X” yang selalu membuat hidupku terkadang menjadi
sampah yang tak berguna karena selalu menyayat hati ini oleh ulah yang dia
lakukan tanpa peduli memikirkan bagaimana perasaanku. Tuhan, sebenarnya aku
ingin menyerah saja dalam menghadapi semuanya, tapi aku yakin Engkau tidak akan
memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambaNya. Ada banyak kisah didalam
hidupku, ada banyak mistei didalam kehidupanku. Semua jalan hidupku sepertinya
terlihat baik-baik saja tapi pada hakikatnya hati ini menjerit, merintih
kesakitan. Aku selalu direndahkan oleh seseorang, terkadang aku selalu di
cemoohkan dengan kata-kata “Apaan sih Gontor”. Hei wahai orang-orang yang
bernyawa anda belum merasakan bagaimana dididik di sana, bagaimana pahit
manisnya belajar disana lebih baik jaga lisan anda dari perkataan seperti itu. Mungkin
ini tidak bisa mewakili seluruh keluh kesahku seluruh rasa sakitku. Bagaimana aku
sekarang hanya orang-orang tertentu yang dapat mengetahuinya. Sebelum dan
sesudahnya aku ingin mengucapakan banyak terimakasih kepada sahabatku Meita
Nurdini Lestari dan Ibunda Cucu yang telah memberikan aku support dan
dukungannya tanpa mereka mungkin aku sudah salah dalam mengambil langkah dan
keputusan. Semoga Allah selalu menjaga kalian dimanapun kalian berada. Amin.
Tasikmalaya,
4 April 2018

Komentar
Posting Komentar