THE TEARS OF REGRET :(


Malam ini aku harus menutup semua kisahku, dongengku tentangku dan tentangmu. Ku tutup kisah ini dengan penuh kesedihan yang mendalam. Siapa yang menyangka kebersamaan yang singkat ini seakan hancur bagaikan di terjang angin, di terpang badai, serta di guyur hujan deras. Hingga kini aku masih tidak menyangka akan semua ini, padahal baru saja kita bercengkrama, baru saja kita bersama, baru saja kita saling tegur sapa. Tuhan mengapa ini semua terjadi? “batinku”.
Dan aku harus menyadari ketika aku terbangun dari tidur ini, aku harus tahu bahwa kamu sudah tidak berada  disampingku lagi. Hingga saat ini aku masih belum ikhlas aku masih belum bisa menerima semua ini. Hatiku, batinku, jiwaku, bahkan ragaku pun menjerit. Tuhan aku masih belum bisa menerima ini semua
Jujur saja aku belum terbiasa hidup sendiri tanpamu, karena saat pertama kali aku menginjakkan kaki di sini, kamulah yang menemani hari-hariku, yang selalu menjadi tempat berkeluh kesah ketika aku senang atau pun sedih. Tapi kini dia menghilang dan tak tahu entah berada dimana, aku merindukannya. Tuhan aku merindukannya.
Semua telah terjadi, lalu aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Selain menangis setiap waktu disaat aku merindukannya. Tuhan sungguh aku belum siap akan semua ini. Kuatkanlah aku kuatkanlah hatiku, batinku dan juga jiwaku yang lemah ini.
Aku tahu mungkin ini sudah menjadi ketetapan Allah, mungkin ini telah menjadi petunjuk dari Allah atas do’a-do’a yang selama ini selalu kita panjatkan disetiap sujud di dalam sholat. Kini. Allah telah menjawab semua do’a tersebut. Aku harus ikhlas, aku harus ikhlas. Tapi, jujur saja rasanya berat sekali hati ini untuk bisa mengikhlaskan semuanya.
Rasa sakit, rasa penat di dalam hati ini masih terus menyelimuti hatiku saat ini. Tuhan sekali lagi aku belum siap   jika saja aku harus hidup dalam kata “ANDAIKAN”, aku tak akan melepaskannya dari genggaman tanganku ini. Tapi apalah daya ini semua sudah menjadi skenarioNya.
Hanya tinggal menghitung hari saja detik-detik dia akan meninggalkan tempat ini, sungguh aku tak kuasa menahan air mata ini. Kepergiannya membuat hatiku sedih yang teramat dalam bagai di sayat-sayat oleh sebuat pisau yang sangat tajam ini. Tuhan, ikhlaskanlah kepergiannya. Aku tahu ini untuk masa depannya, untuk masa depan yang lebih cerah karena jalannya masih sangat terlalu panjang, tidak seperti aku.
Walau bagaimanapun, kamu telah menjadi bagian dari sepenggal hidupku, dongengku dan kisahku. Terimakasih karena telah mengajariku berbagai hal disini di tempat ini. Ya Allah jagalah dia, lindungilah dia selalu di tempat barunya nanti. Bahagiakanlah ia selalu, serta bimbinglah ia selalu di dalam ketetapanMu Ya Rabb. Hanya kepadaMu aku berserah dan hanya kepadaMu lah aku meminta segala sesuatu.
Lahaula walaa quwwata illa billahil’aliyyil adzim
Tasikmalaya, 11 Mei 2017
It’s me
Bella Yoriska Firdaus

                        

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku menulis, Aku berbagi

SEBUAH NOKTAH KECIL (Aku berteriak kencang di balik sekat, agar tak seorang pun tahu betapa rapuhnya aku.)

BEHIND OF SHADOW