THE TEARS OF REGRET :(
Malam ini aku
harus menutup semua kisahku, dongengku tentangku dan tentangmu. Ku tutup kisah
ini dengan penuh kesedihan yang mendalam. Siapa yang menyangka kebersamaan yang
singkat ini seakan hancur bagaikan di terjang angin, di terpang badai, serta di
guyur hujan deras. Hingga kini aku masih tidak menyangka akan semua ini,
padahal baru saja kita bercengkrama, baru saja kita bersama, baru saja kita
saling tegur sapa. Tuhan mengapa ini semua terjadi? “batinku”.
Dan aku harus
menyadari ketika aku terbangun dari tidur ini, aku harus tahu bahwa kamu sudah
tidak berada disampingku lagi. Hingga
saat ini aku masih belum ikhlas aku masih belum bisa menerima semua ini.
Hatiku, batinku, jiwaku, bahkan ragaku pun menjerit. Tuhan aku masih belum bisa
menerima ini semua ☹
Jujur saja aku
belum terbiasa hidup sendiri tanpamu, karena saat pertama kali aku menginjakkan
kaki di sini, kamulah yang menemani hari-hariku, yang selalu menjadi tempat
berkeluh kesah ketika aku senang atau pun sedih. Tapi kini dia menghilang dan
tak tahu entah berada dimana, aku merindukannya. Tuhan aku merindukannya.
Semua telah
terjadi, lalu aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Selain menangis
setiap waktu disaat aku merindukannya. Tuhan sungguh aku belum siap akan semua
ini. Kuatkanlah aku kuatkanlah hatiku, batinku dan juga jiwaku yang lemah ini.
Aku tahu mungkin
ini sudah menjadi ketetapan Allah, mungkin ini telah menjadi petunjuk dari
Allah atas do’a-do’a yang selama ini selalu kita panjatkan disetiap sujud di
dalam sholat. Kini. Allah telah menjawab semua do’a tersebut. Aku harus ikhlas,
aku harus ikhlas. Tapi, jujur saja rasanya berat sekali hati ini untuk bisa
mengikhlaskan semuanya.
Rasa sakit, rasa
penat di dalam hati ini masih terus menyelimuti hatiku saat ini. Tuhan sekali
lagi aku belum siap ☹ jika saja aku harus hidup dalam kata
“ANDAIKAN”, aku tak akan melepaskannya dari genggaman tanganku ini. Tapi apalah
daya ini semua sudah menjadi skenarioNya.
Hanya tinggal
menghitung hari saja detik-detik dia akan meninggalkan tempat ini, sungguh aku
tak kuasa menahan air mata ini. Kepergiannya membuat hatiku sedih yang teramat
dalam bagai di sayat-sayat oleh sebuat pisau yang sangat tajam ini. Tuhan,
ikhlaskanlah kepergiannya. Aku tahu ini untuk masa depannya, untuk masa depan
yang lebih cerah karena jalannya masih sangat terlalu panjang, tidak seperti
aku.
Walau
bagaimanapun, kamu telah menjadi bagian dari sepenggal hidupku, dongengku dan
kisahku. Terimakasih karena telah mengajariku berbagai hal disini di tempat
ini. Ya Allah jagalah dia, lindungilah dia selalu di tempat barunya nanti.
Bahagiakanlah ia selalu, serta bimbinglah ia selalu di dalam ketetapanMu Ya
Rabb. Hanya kepadaMu aku berserah dan hanya kepadaMu lah aku meminta segala
sesuatu.
Lahaula
walaa quwwata illa billahil’aliyyil adzim
Tasikmalaya, 11
Mei 2017
It’s me
Bella Yoriska
Firdaus

Komentar
Posting Komentar