PELANGI YANG INDAH ITU MEMANG ADA


Di kehidupan yang baru ini aku mendapatkan banyak sekali pengalaman yang sebelumnya memang belum aku dapatkan ketika aku mondok di Gontor. Dahulu aku hanyalah sebagai penonton saja tapi kini ditempat yang baru ini aku bisa menjadi pemain. Tapi aku tidak pernah menyalahkan semuanya, aku bersyukur karena ketika dulu aku mondok d Gontor, aku menjadi penonton yang setia, hingga akhirnya aku bisa mengaplikasikannya di sini. Apa yang aku dapatkan di Gontor, apa yang aku dengar dan aku rasakan di Gontor aku aplikasikan di sini dengan semampuku.
Tiap Pondok Pesantren mungkin mempunyai ciri khas yang berbeda, begitupun juga di sini, ada banyak perbedaan yang tidak bisa di samakan dengan Gontor, karena disini memang berpegang teguh kepada 3 pilar yaitu: Diknas, Gontor, Salafi. Yang mana ketiga perbedaan tersebut mempunyai ciri khas yang berbeda-beda layaknya negeri ini Indonesia, berbeda-beda suku, ras, bahasa, adat istiadat akan tetapi tetap satu negeri yaitu; Indonesia.
Aku merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang yang berbeda macam karakternya disini, dengan berbagai macam sifat, usia, kebiasaan, adat aku mampu untuk memahami satu sama lainnya.
Untuk pertama kalinya ketika aku menginjakkan kakiku di pondok ini, aku di bantu dan diarahkan oleh salah satu temanku yaitu Martha, mulai dari kegiatan sehari-hari, makan, mengajar, mengaji dsb. Ucapan rasa terimakasih pun tak lupa aku ucapkan kepadanya. Walau terkadang dia memang selalu menjengkelkan tapi dia itu baik sebenarnya asal kita mengerti dia dan mampu memposisikan ketika berbicara dengannya hehe.
Disini aku mendapatkan amanah menjadi ustadzah bagian Pengajaran, yang mungkin kalian tahu kalau d Gontor bagian tersebut merupakan bagian kesayangannya bapak pengasuh dan bukan sembarang orang yang dapat singgah di bagian tersebut, hanya orang-orang pilihanlah yang mampu singgah disana istilahnya “mumtaz”. Isn’t it?. Aku lihat, aku rasakan, aku kerjakan oh ternyata seperti ini menjadi ustadzah bagian pengajaran. I feel it. Repot, capek, bosan itu yang aku rasakan namun semua itu hilang ketika aku bersama teman-temanku satu kamar mampu mengerjakannya dengan kompak, rasanya capek itu terbalas semuanya. Omelan, cemoohan, komentar dari guru-guru lain yang ingin pindah jadwal mengajar terkadang pasti selalu ada, tapi kita tak pantang menyerah karena kita harus tahan banting, hal tersebut sudah biasa disini.
Kepanitiaan yang sebelumnya aku jarang dapatkan ketika di Gontor, kini aku bisa merasakannya disini walau belum semua aku merasakannya. Tapi aku merasa bersyukur karena setiap acara atau ada kepanitiaan nama saya selalu tertulis, ini bukan niat untuk takabbur, akan tetapi hanya sekedar ingin tahaddus binni’mah saja. “Aku dipilih bukan karena aku hebat, tapi mungkin aku dipilih karena aku dipercaya mampu mengerjakan pekerjaan tersebut. Batinku”.
Dari berbagai kepanitiaan ada salah satu kepanitiaan yang mungkin bisa menjadi “Unforgetable Experience”, yaitu; Menjadi salah satu tim crew dalam pembuatan film profil pondok. Yang mana aku diberi amanah menjadi assisten sutradara menemani kak hania. Iyah memang ketika di Unida dulu aku sempat bergabung dalam pembuatan film pendek kampus yang kebetulan memang akan ada lomba short movie dalam acara fesda “festival unida”. Disitu panas, hujan aku bersama crew yang lain kami menghadapinya dengan hati yang “ikhlas”, karena di Gontor aku telah belajar apa itu arti dari sebuah Keikhlasan. Kami melewatinya kurang lebih sekitar 2 minggu berjalan walaupun aku tidak terlalu terjun ke lapangan karena pada saat itu aku juga sedang dalam kepanitiaan Ujian Pesantren Siswa Akhir 2017, yang mana aku disini menjadi penulis soal ujian untuk mereka. Arrrrrrghhhhhh, rasanya aku ingin membagi tubuhku menjadi 2 bagian saja agar aku mampu terjun ke dua tempat tersebut hehe konyol.
Dan ada lagi kepanitiaan yang tak akan aku lupakan yaitu Panitia Ujian Pesantren dan Haflah Siswa Akhir 6 2017, iya panitia ini aku dipertemukan dengan orang-orang baru lagi, walau aku harus bekerja sampe larut malam namun pada saat itu aku tidak pernah mengeluh karena aku selalu merasa terhibur oleh tingkah laku ketua panitia yang selalu menghibur kami semua. Hehe dan tepatnya pada tanggal 5 Mei 2017 kita memang kerja sampe pagi, karena membuat ijazah pesantren yang harus diberikan kepada santri/santriwati esok hari, pada saat acara tabligh akbar kami tidak menonton acara tsb, lantas kami harus kerja paruh waktu, hingga pukul 04.00 Wib. Subhanaallah. Disini aku mengerti kenapa di Gontor harus mengabdi dulu baru bisa mendapat ijazah, ya jawabannya ini. Save in my heart.
Dan ada satu lagi kepanitiaan yaitu, menjadi pembimbing Tarbiyah Amaliyah siswa akhir  dari awal sampe akhir acara tsb, yang mana kalian tahu, menjadi pembimbing tarbiyah amaliyah kalau d Gontor memang harus yang sudah senior kan, bukankah begitu? jadi tidak sembarangan, namun disini alhamdulillah aku dapat dipercaya menjadi pembimbing acara tersebut.
Berbagai pengalaman yang aku dapatkan disini begitu banyak dan dapat aku ambil pelajaran dari semua ini. Beribu ucapan terimakasih pun aku ucapkan kepada Pondok tercinta ini. Dimanapun nanti, kemanapun nanti tujuan kehidupanku, aku harus yakin kalau Allah sudah mengatur semuanya. Bismillah

Insyaallah ini pilihan yang terbaik. Berdo'a, mendo'akan, minta do'a.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku menulis, Aku berbagi

SEBUAH NOKTAH KECIL (Aku berteriak kencang di balik sekat, agar tak seorang pun tahu betapa rapuhnya aku.)

BEHIND OF SHADOW