MENGULANG WAKTU KEMBALI

 



Kalau aku bisa mengulang waktu, mungkin aku akan perbaiki semuanya baik itu kepada suami, mertua dan ipar. Tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur kesempatan itu tidak dapat aku putar Kembali.

Katanya menikah adalah menyatukan dua adat yang berbeda agar menjadi satu, tapi mereka tidak bisa menerima kebiasaan dari adat aku ini. Mereka hanya ingin dimengerti adat mereka yang harus dijunjung tinggi. Orang tuanya tidak cocok denganku karena katanya aku ini menantu yang boros, suka menghambur-hamburkan uang anaknya, sering belanja online, tidak pernah masak, tidak pernah menabung dan banyak lagi laporan yang sampai ke telinga mantan suamiku. Lebih parahnya lagi aku di fitnah memiliki hubungan dengan ketua kampung. Padahal selama dikampung aku tidak pernah macam-macam, aku selalu berusaha menjadi istri dan menantu yang baik sesuai yang mereka harapkan.

Aku disini adalah korban, korban dari adu domba orang tuanya kepada mantan suamiku. Salahnya mantan suamiku dia gampang percaya dengan omongan orang tuanya tanpa bertanya dulu kepadaku.

Anakku Yusuf yang harus menjadi korbannya. Begitu sakit seperti di iris-iris pisau tajam hatiku ini. Kenapa Nasib anakku sama sepertiku memiliki keluarga yang bercerai. Apakah ini suratan takdirMu? Bukan aku yang berulah bukan aku yang salah aku disini adalah korban ke egoisan mantan suamiku dan adu domba mantan mertuaku.

Menjadi single mom yang memiliki 2 peran sekaligus tidaklah mudah. Ada rasa Lelah dan letih juga. Rasanya ingin berteriak ingin mati saja tapi aku sadar kalau aku matin anti anakku sama siapa. Aku harus tetap hidup, aku harus tetap kuat dan aku harus tetap berjalan. Biarlah Allah maha mengetahui segalanya, Allah maha adil. Setiap selesai solat aku selalu berdo’a Ya Allah tunjukkanlah keadilan dan kebenaran dihadapan mantan suamiku bahwa aku ini adalah korban kejahatan keluarganya.

Jujur saja hingga detik ini aku masih belum bisa menerima perpisahan ini, rasanya belum rela dan Ikhlas anakku harus merasakan apa yang aku rasakan sejak kecil. Tapi gimana hidup harus terus berjalan. Aku Cuma bisa sabar dan pasrah atas semua ini. Yakinlah Allah akan memberikan rezeki yang berlimpah untukku dan anakku. Yakinlah rezeki untuk sekolah Yusuf pasti ada nanti. Ya Allah suskeskanlah anakku, angkat derajat anakku. Aamiin

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku menulis, Aku berbagi

SEBUAH NOKTAH KECIL (Aku berteriak kencang di balik sekat, agar tak seorang pun tahu betapa rapuhnya aku.)

BEHIND OF SHADOW