NEGERI DONGENG Part IV

Istana kerajaan, 19 Juli 2016
Kini suasana kerajaan pun semakin tak bisa diungkapkan olehku. Sebenarnya aku pun tak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi aku mulai memahami akan permasalahan yang sedang terjadi. Aku tahu kalau sebenarnya sang raja sedang ingin menjauh dari kehidupanku, ya aku tahu itu tanpa sebelumnya tepat sang raja memberitahuku.
Setelah Sang Raja pulang dari perantauan bulan lalu, sikap Sang Raja menjadi berbeda kepada seluruh penduduk istana kerajaan, begitu juga kepadaku. Lalu Sang Raja pun mendapat tugas kembali untuk pergi ke Negeri sebrang selama beberapa bulan. Untuk kepergian yang satu ini Sang Raja memang tidak seperti biasanya, yang selalu meninggalkan pesan dan nasehat untuk istana kerajaan kepadaku. Sekarang ini sang raja tidak meninggalkan pesan dan nasehat apapun untuk istana kerajaan ini. Terasa begitu aneh untukku.
Di saat aku sedang duduk berdiam diri di belakang kebun tiba-tiba Pak Joko datang menghampiriku, Beliau adalah seorang tukang kebun di istana kerajaan ini dan memang kebetulan dekat denganku. Kemudian Pak Joko bertanya kepadaku “kamu kenapa? Sepertinya kamu sedang ada masalah?”. “tidak apa-apa pak”, Jawabku. Akan tetapi tanpa aku bercerita kepada Pak Joko, ternyata beliau sudah mengetahui apa yang sedang terjadi kepadaku. Lalu pada saat itu aku menceritakan semua yang terjadi, aku menceritakan semua perubahan Sang raja kepadaku. Dengan penuh kasih sayang Pak Joko akhirnya memelukku, kemudian meneteskan air mata. Aku tahu ini sangat perih untukku, aku yang telah bekerja selama puluhan tahun disini, aku juga yang telah menjadi tangan kanannya, dan aku juga yang telah menjadi orang kepercayaan Sang Raja, kini tiba-tiba Sang Raja berubah begitu saja kepadaku dan juga istana kerajaan ini. Sungguh aku tak kuasa menahan semua ini, dan tanda tanyaku pun semakin besar. “ada apa ini? Ada apa ini?” batinku.
Hari telah berlalu Sang Raja pun semakin jarang pulang ke istana kerajaan, bahkan memberi kabarpun tidak ada sama sekali. Sebenarnya aku khawatir, bukan aku saja yang khawatir akan tetapi seluruh keluarga istana kerajaan pun ikut mengkhawatirkan Sang Raja. Lalu 3 orang prajurit aku suruh untuk melihat keadaan Sang Raja di Negeri sebrang. Pergilah mereka dengan semangat gagah perkasa bersama pasukan berkudanya.
Setelah tiba disana, akhirnya prajurit memberi tahu kepada istana, bahwa Sang Raja disana dalam keadaan baik-baik saja. Sontak hatikupun terasa lega setelah mendengar kabar tersebut. Prajurit bilang tiga hari lagi Sang Raja akan segera kembali ke istana kerajaan jika pekerjaannya telah selesai semuanya.
Pada hari ini Sang Raja beserta para prajuritnya sedang berada dalam perjalanan pulang menuju ke istana, akupun segera mempersiapkan diri pergi ke dapur, untuk mempersiapkan masakan kesukaannya Sang Raja. Tibalah Sang Raja di istana, semua penduduk istana menyambut kedatangan Sang Raja dengan penuh gembira. Lalu setelah itu Sang Raja langsung menuju ke ruang makan, makanan pun telah siap untuk dinikmati. Tidak seperti biasanya pada saat itu aku tidak ikut serta makan malam bersama Sang Raja, karena tugasku sebagai pembantu masih banyak yang harus aku kerjakan.
Hari-hari pun berlalu, kini Sang Raja sedang sibuk dengan tugas akhirnya. Karena sekitar delapan hari lagi Beliau akan segera menjadi seorang “sarjana ahli ekonomi”. Aku memang sudah jarang berkomunikasi lagi dengan Sang Raja. Semenjak kejadian itu aku tidak pernah berkomunikasi dengan Sang Raja, karena aku harus tahu akan posisiku di istana kerajaan ini. Memang harus aku akui, aku benar-benar tidak nyaman akan ini semua, tapi apalah daya aku tak bisa berbuat apa-apa. Perihal Pak Joko memberikan pesan dan nasihat kepadaku, aku menjadi semakin tahu dan menyadarinya kalau aku hanyalah seorang dayang di istana kerajaan ini yang tak punya harta, tahta, dan juga warisan yang berlimpah.
Pada hari ini keputusanku sudah bulat, bahkan tekadku sudah kuat. Aku akan mengundurkan diri untuk tidak bekerja lagi di istana kerajaan ini. Karena jika semakin aku bertahan bekerja di istana kerajaan ini, aku akan semakin sakit melihat perlakuan Sang Raja yang sudah tidak mempedulikan aku dan juga tak pernah menghargai semua pekerjaanku di istana kerajaan ini. Tanpa berbicara sepatah kata pun Sang Raja kepadaku, akhirnya aku beranjak melangkahkan kakiku keluar istana kerajaan. Pak Joko yang akan mengantarkanku hingga ke rumah. Aku berharap dan berdo’a semoga Sang Raja bisa menemukan kembali penggantiku di istana kerajaan ini. Dan semoga Sang Raja selalu berada dalam lindungan Allah Swt serta di mudahkan dalam segala urusannya.
Di perjalanan aku dan Pak Joko bercerita panjang lebar, baik itu pengalaman hidup beliau maupun pengalaman hidupku. Ketika di istana memang Pak Joko sudah aku anggap sebagai pengganti ayahku karena memang beliau yang dekat denganku sewaktu di istana kerajaan. Beliau tahu tentang aku dan bagaimana aku karena memang kita bertetangga dekat di desa. Beliau berpesan agar aku tidak memikirkan hal-hal yang tidak penting untukku pikirkan. Akhirnya tibalah di rumahku, tak lama kemudian Pak Joko bergegas untuk kembali ke Istana Kerajaan karena masih banyak pekerjaan yang harus beliau selesaikan.
Tidak seperti biasanya di Istana Kerajaan pasti ramai sekali dengan canda dan tawa, akan tetapi kini di rumah sangatlah sepi dan terasa hampa. Tapi harus aku akui ini adalah kehidupan baruku dan aku harus memulainya. Aku pasti bisa melewati hari-hariku sendiri. Tidak perlu khawatir karena aku telah menuliskan semua pesan dan nasihat Sang Raja yang telah beliau berikan untukku. Jadi jika suatu saat nanti aku berbuat khilaf, maka yang pertama aku buka yaitu pesan dan nasihat dari Sang Raja.
Terimakasih Sang Raja yang telah mengajariku serta mendidikku semoga semua ladang kebaikanmu dibalas oleh Allah Swt. Amin
Kampung Nan Damai, 22 Juli 2016
Sang Dayang:
Bella Yoriska Firdaus

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku menulis, Aku berbagi

SEBUAH NOKTAH KECIL (Aku berteriak kencang di balik sekat, agar tak seorang pun tahu betapa rapuhnya aku.)

BEHIND OF SHADOW